SIGI – Di tengah kesibukannya sebagai anggota DPRD Kabupaten Sigi, Fadlin kembali menunjukkan kedekatannya dengan masyarakat melalui kunjungan silaturahmi ke komunitas mualaf di Desa Poi. Kunjungan tersebut bukan bagian dari agenda kedewanan maupun kegiatan resmi pemerintahan, melainkan murni sebagai bentuk kepedulian dan ikatan persaudaraan dengan warga.

 

Bagi Fadlin, hubungan dengan masyarakat tidak selalu harus dibangun melalui forum formal. Kehadiran secara langsung sebagai sesama saudara dinilai mampu menciptakan suasana yang lebih hangat dan terbuka sehingga berbagai persoalan dapat disampaikan tanpa rasa sungkan.

 

Dalam kunjungannya, Fadlin membaur bersama warga, mendengarkan kisah kehidupan para mualaf, serta berbagi kebersamaan dalam suasana penuh kekeluargaan. Berbagai cerita tentang perjalanan hidup, tantangan sosial dan ekonomi, hingga harapan untuk masa depan yang lebih baik disampaikan secara terbuka oleh warga.

 

Dari dialog tersebut, muncul sejumlah aspirasi yang membutuhkan perhatian bersama. Salah satunya terkait enam kepala keluarga (KK) yang hingga kini belum terdata sebagai penerima bantuan sosial, meskipun dinilai memenuhi syarat untuk mendapatkan dukungan dari pemerintah.

 

Selain itu, beberapa warga mengaku pernah menerima bantuan sosial, namun bantuan tersebut terhenti sehingga mereka tidak lagi memperoleh manfaat yang sebelumnya diterima.

 

Keluhan dan harapan tersebut disampaikan langsung kepada Fadlin dengan harapan dapat diperjuangkan melalui jalur yang memungkinkan. Menanggapi hal itu, Fadlin menegaskan bahwa seluruh aspirasi masyarakat akan menjadi catatan penting untuk ditindaklanjuti dan dikoordinasikan dengan instansi terkait.

 

“Saya datang bukan karena agenda resmi sebagai anggota DPRD. Saya hadir sebagai saudara, sebagai bagian dari masyarakat yang ingin mendengar langsung cerita dan kondisi yang dihadapi warga. Ketika ada persoalan yang bisa diperjuangkan, tentu akan saya upayakan agar mendapat perhatian dari pihak terkait,” ujar Fadlin.

 

Menurutnya, mendengarkan masyarakat secara langsung merupakan cara terbaik untuk memahami kondisi nyata yang terjadi di lapangan. Sebab, di balik data dan laporan yang ada, terdapat kisah kehidupan masyarakat yang tidak selalu terlihat dari balik meja kerja.

 

Kunjungan tersebut menjadi gambaran bahwa hubungan antara pemimpin dan masyarakat tidak hanya dibangun melalui program dan kebijakan, tetapi juga melalui kehadiran, kepedulian, dan kesediaan untuk mendengar. Di Desa Poi, Fadlin hadir tanpa sekat jabatan dan protokoler yang kaku, melainkan dengan semangat persaudaraan yang membuat masyarakat merasa dekat dan dihargai.

 

Bagi warga, kehadiran Fadlin menjadi bukti bahwa masih ada sosok yang bersedia meluangkan waktu untuk mendengar suara mereka secara langsung. Sementara bagi Fadlin, silaturahmi seperti ini merupakan pengingat bahwa amanah yang diemban pada dasarnya adalah untuk memastikan setiap aspirasi masyarakat, sekecil apa pun, tetap mendapat ruang untuk didengar dan diperjuangkan demi terwujudnya kesejahteraan yang lebih merata.(Ardi)